Hukum Merayakan Tahun Baru Islam, Sunnah atau Mubah? Berikut Jawabannya Lengkap Dengan Doa Awal dan Akhir

 Hukum Merayakan Tahun Baru Islam, Sunnah atau Mubah? Berikut Jawabannya Lengkap Dengan Doa Awal dan Akhir 

Bagaimana hukum merayakan Tahun Baru Islam? Mungkin, sedang menjadi pertanyaan bagi Anda. Tepat banget, karena kami akan membahasnya. Sehingga, dapat menjawab rasa penasaran Anda mengenai persoalan ini. Terlebih, menjadi tuntutan bagi Anda dalam menjalankan syariat Islam dengan benar. Bahkan, untuk menghindari keragu-raguan dalam melakukan kegiatan tersebut. Apakah, merupakan tergolong sunnah yang dianjurkan. Atau, sekedar mubah dan tradisi.   Apakah Rasulullah Saw dan para Sahabat pernah melakukan maupun mencontohkannya di masa lampau. Nah, akan dikupas secara tuntas pada ulasan kami. Selain itu, juga berkaitan dengan pendapat-pendapat ulama mengenai amalan ini. Apakah terdapat ikhtilaf terkait fatwa para ulama ataukah sama. Terpenting lagi, mengenai doa awal dan akhir tahun Hijriyah. Selengkapnya pembahasan terkait Tahun Baru Islam langsung simak pembahasan dibawah ini.    Bagaimana Hukum Merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah? Nih Jawabannya  Merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah ternyata bukanlah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka, belum pernah dicontohkan sebelumnya oleh beliau maupun para sahabat. Sehingga, fatwa para ulama mengalami ikhtilaf. Artinya, terdapat perbedaan pendapat. Berikut beberapa pendapat dari ulama mengenai peringatan tahun baru Hijriyah:    Ulama Moderat   Sebagian besar ulama yang berpaham lebih moderat, menghukumi Mubah bagi yang merayakan Tahun Baru Hijriyah. Mubah mempunyai arti Boleh, tidak berdosa melakukannya dan tidak mendapat pahala jika mengamalkannya. Didefinisikan secara detail yaitu, diperbolehkan merayakan Tahun Baru Islam karena tidak terdapat larangan yang tercantum di ayat Al-Qur'an maupun Hadits. Tidak ada Nash yang melarang sama sekali, meskipun tidak ada pula firman yang memerintah dan menganjurkannya. Ormas Islam yang cenderung menggunakan pendapat ini adalah, Muhammadiyah dan NU.    Muhammadiyah  Perbedaannya, Muhammadiyah menegaskan bahwa jangan menjadikan ini sebagai kewajiban atau syariat ubudiyah karena tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Saw. Sehingga, disarankan jika memperingati-nya hanya semata-mata sebagai melestarikan culture Islam. Terlebih, merekomendasikan untuk memilih kegiatan yang sifatnya muamalah jika merayakan Tahun Baru Hijriyah. Misalnya seperti: Pengajian / Kajian Dakwah. Hal ini dilakukan, untuk menghindari unsur bid'ah yang dilarang menambahkan ritual ubudiyah tanpa tuntutan Nabi Muhammad Saw. Sebagai perilaku berhati-hati dan tidak menjadi umat yang berlebihan.   NU (Nahdlatul Ulama)  Sedangkan, jika NU tidak terlalu menegaskan terkait kehati-hatian mubah ini. Justru, cenderung selalu merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah. Biasanya tradisi NU dalam memperingati Tahun Baru Hijriyah dengan cara mengadakan Sholawatan, Tahlilan, Yasinan, dan Pengajian. Sudah menjadi budaya yang direkomendasikan setiap kali masuk tahun baru maupun akhir. Selain itu, bahkan di NU mentradisikan membaca Doa Awal dan Akhir Tahun setiap kali tanggal Hijriyah habis maupun memasuki yang baru. Alasannya, karena ini sebuah amalan yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Supaya, memperbanyak berdzikir dan bersholawat. Terlebih, dengan berdoa agar selama setahun selalu dalam lindungan dan petunjuk dari Allah SWT. Serta, mendapatkan ampunan dari-Nya atas dosa yang pernah kita perbuat.    Salafi dan Organisasi Satu Ideologi Dengannya  Pendapat lainnya, berasal dari kelompok Salafi dan afiliasi organisasi yang satu ideologi dengannya. Berpendapat bahwa, hukum merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah adalah Bid'ah. Sehingga, mutlak dilarang memperingati-nya. Karena, tidak ada ayat yang memerintahkan dan tidak pernah dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah Saw maupun sahabat.    Doa Tahun Baru Islam, Awal dan Akhir Hijriyah!  Membaca doa Tahun Baru Islam awal dan akhir Hijriyah, tentunya sudah tidak asing lagi bagi Anda yang warga NU (Nahdlatul Ulama). Namun, terkadang Anda lupa jika tidak membaca di depan teks secara langsung. Oleh sebab itu, supaya tidak keliru dalam mengamalkan doanya maka berikut ini redaksi doanya berbahasa Arab lengkap dengan terjemahan:   Doa Akhir Tahun Hijriyah  Mengutip dari situs resmi NU yang telah merangkumnya dari kitab Maslakul Akhyar oleh Sayyid Utsman bin Yahya, maka berikut doa akhir tahun Hijriyah:   اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ   Allâhumma mâ 'amiltu min 'amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî 'anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alâ 'uqûbatî, wa da'autanî ilat taubati min ba'di jarâ'atî 'alâ ma'shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ 'amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa'attanî 'alaihits tsawâba, fa'as'aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha' rajâ'î minka yâ karîm.   Artinya:  "Ya Allah Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Ya Allah Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."   Doa Awal Tahun Hijriyah  Mengutip dari kitab Maslakul Akhyar kata Habib Utsman, doa awal bulan Muharram atau awal tahun Hijriyah ini disarankan untuk membacanya sebanyak tiga kali.    اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ   Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'alâ fadhlikal azhîmi wa karîmi jûdikal mu'awwal. Hâdzâ 'âmun jadîdun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ'ih, wal 'auna 'alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû'I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.   Artinya:  "Ya Allah Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan."    Demikianlah artikel dari kami yang membahas tentang, Tahun Baru Islam. Sehingga, dapat menjadi dasar bagi Anda. Mengenai, apakah boleh merayakannya ataukah tidak. Bagaimana hukum memperingati tahun baru hijriah. Terlebih, tentang pendapat ulama tentang fatwa-nya. Dengan begitu, dapat menjawab pertanyaan Anda dan menjadi referensi. Demi memperkuat iman kepada Allah SWT dan mendalami keislaman. Bahkan, untuk menuntun Anda dalam meningkatkan penerapan syariat yang benar.    Wallahu A'lam Bi Shawab


Bagaimana hukum merayakan Tahun Baru Islam? Mungkin, sedang menjadi pertanyaan bagi Anda. Tepat banget, karena kami akan membahasnya. Sehingga, dapat menjawab rasa penasaran Anda mengenai persoalan ini. Terlebih, menjadi tuntutan bagi Anda dalam menjalankan syariat Islam dengan benar. Bahkan, untuk menghindari keragu-raguan dalam melakukan kegiatan tersebut. Apakah, merupakan tergolong sunnah yang dianjurkan. Atau, sekedar mubah dan tradisi.


Apakah Rasulullah Saw dan para Sahabat pernah melakukan maupun mencontohkannya di masa lampau. Nah, akan dikupas secara tuntas pada ulasan kami. Selain itu, juga berkaitan dengan pendapat-pendapat ulama mengenai amalan ini. Apakah terdapat ikhtilaf terkait fatwa para ulama ataukah sama. Terpenting lagi, mengenai doa awal dan akhir tahun Hijriyah. Selengkapnya pembahasan terkait Tahun Baru Islam langsung simak pembahasan dibawah ini.



Bagaimana Hukum Merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah? Nih Jawabannya

Merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah ternyata bukanlah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka, belum pernah dicontohkan sebelumnya oleh beliau maupun para sahabat. Sehingga, fatwa para ulama mengalami ikhtilaf. Artinya, terdapat perbedaan pendapat. Berikut beberapa pendapat dari ulama mengenai peringatan tahun baru Hijriyah: 


  1. Ulama Moderat 

Sebagian besar ulama yang berpaham lebih moderat, menghukumi Mubah bagi yang merayakan Tahun Baru Hijriyah. Mubah mempunyai arti Boleh, tidak berdosa melakukannya dan tidak mendapat pahala jika mengamalkannya. Didefinisikan secara detail yaitu, diperbolehkan merayakan Tahun Baru Islam karena tidak terdapat larangan yang tercantum di ayat Al-Qur'an maupun Hadits. Tidak ada Nash yang melarang sama sekali, meskipun tidak ada pula firman yang memerintah dan menganjurkannya. Ormas Islam yang cenderung menggunakan pendapat ini adalah, Muhammadiyah dan NU. 


  1. Muhammadiyah

Perbedaannya, Muhammadiyah menegaskan bahwa jangan menjadikan ini sebagai kewajiban atau syariat ubudiyah karena tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Saw. Sehingga, disarankan jika memperingati-nya hanya semata-mata sebagai melestarikan culture Islam. Terlebih, merekomendasikan untuk memilih kegiatan yang sifatnya muamalah jika merayakan Tahun Baru Hijriyah. Misalnya seperti: Pengajian / Kajian Dakwah. Hal ini dilakukan, untuk menghindari unsur bid'ah yang dilarang menambahkan ritual ubudiyah tanpa tuntutan Nabi Muhammad Saw. Sebagai perilaku berhati-hati dan tidak menjadi umat yang berlebihan.


  1. NU (Nahdlatul Ulama)

Sedangkan, jika NU tidak terlalu menegaskan terkait kehati-hatian mubah ini. Justru, cenderung selalu merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah. Biasanya tradisi NU dalam memperingati Tahun Baru Hijriyah dengan cara mengadakan Sholawatan, Tahlilan, Yasinan, dan Pengajian. Sudah menjadi budaya yang direkomendasikan setiap kali masuk tahun baru maupun akhir. Selain itu, bahkan di NU mentradisikan membaca Doa Awal dan Akhir Tahun setiap kali tanggal Hijriyah habis maupun memasuki yang baru. Alasannya, karena ini sebuah amalan yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Supaya, memperbanyak berdzikir dan bersholawat. Terlebih, dengan berdoa agar selama setahun selalu dalam lindungan dan petunjuk dari Allah SWT. Serta, mendapatkan ampunan dari-Nya atas dosa yang pernah kita perbuat. 


  1. Salafi dan Organisasi Satu Ideologi Dengannya

Pendapat lainnya, berasal dari kelompok Salafi dan afiliasi organisasi yang satu ideologi dengannya. Berpendapat bahwa, hukum merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriyah adalah Bid'ah. Sehingga, mutlak dilarang memperingati-nya. Karena, tidak ada ayat yang memerintahkan dan tidak pernah dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah Saw maupun sahabat.



Doa Tahun Baru Islam, Awal dan Akhir Hijriyah!

Membaca doa Tahun Baru Islam awal dan akhir Hijriyah, tentunya sudah tidak asing lagi bagi Anda yang warga NU (Nahdlatul Ulama). Namun, terkadang Anda lupa jika tidak membaca di depan teks secara langsung. Oleh sebab itu, supaya tidak keliru dalam mengamalkan doanya maka berikut ini redaksi doanya berbahasa Arab lengkap dengan terjemahan:


  1. Doa Akhir Tahun Hijriyah

Mengutip dari situs resmi NU yang telah merangkumnya dari kitab Maslakul Akhyar oleh Sayyid Utsman bin Yahya, maka berikut doa akhir tahun Hijriyah:


اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ


Allâhumma mâ 'amiltu min 'amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî 'anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alâ 'uqûbatî, wa da'autanî ilat taubati min ba'di jarâ'atî 'alâ ma'shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ 'amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa'attanî 'alaihits tsawâba, fa'as'aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha' rajâ'î minka yâ karîm.


Artinya:

"Ya Allah Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Ya Allah Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."


  1. Doa Awal Tahun Hijriyah

Mengutip dari kitab Maslakul Akhyar kata Habib Utsman, doa awal bulan Muharram atau awal tahun Hijriyah ini disarankan untuk membacanya sebanyak tiga kali. 


اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ


Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'alâ fadhlikal azhîmi wa karîmi jûdikal mu'awwal. Hâdzâ 'âmun jadîdun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ'ih, wal 'auna 'alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû'I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.


Artinya:

"Ya Allah Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan."



Demikianlah artikel dari kami yang membahas tentang, Tahun Baru Islam. Sehingga, dapat menjadi dasar bagi Anda. Mengenai, apakah boleh merayakannya ataukah tidak. Bagaimana hukum memperingati tahun baru hijriah. Terlebih, tentang pendapat ulama tentang fatwa-nya. Dengan begitu, dapat menjawab pertanyaan Anda dan menjadi referensi. Demi memperkuat iman kepada Allah SWT dan mendalami keislaman. Bahkan, untuk menuntun Anda dalam meningkatkan penerapan syariat yang benar.


Wallahu A'lam Bi Shawab


Belum ada Komentar untuk "Hukum Merayakan Tahun Baru Islam, Sunnah atau Mubah? Berikut Jawabannya Lengkap Dengan Doa Awal dan Akhir "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel Prakerja

Iklan Tengah Artikel 1 Feed HP

Iklan Tengah Artikel 2 Feed PC

Iklan Bawah Artikel Multipleks